Be-Fresh

FRESH AND HIGIENIC


Tinggalkan Komentar

Wasiat Luqman Al Hakim kepada anaknya (1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah سبحنه وتعالىberfirman :


وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “ hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar benar kezaliman yang besar.” [Luqman :13]
Ini adalah wasiat yang bermanfaat yang telah Allah kisahkan tentang luqman Al Hakim.
1.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “ hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar benar kezaliman yang besar.” [Luqman :13]
Jauhilah kesyirikan dalam peribadahan kepada Allah, seperti berdo’a kepada orang – orang yang telah mati atau orang – orang yang tidak berada di hadapannya. Rasulullah bersabda :
“doa itu adalah ibadah.” [Diriwayatkan oleh At Tirmidzi, ia berkata : Hasan Shahih].
Dan ketika itu turun firman Allah  Ta’ala :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
” Orang – orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang yang mendapatkan pentunjuk” [Al An’am:82]
2. berbuat baik kepada kedua orang tua.
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍوَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“dan kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik kepada kedua orang ibu – bapaknya; ibunya yang telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah, dan
menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan dua orang ibu dan
bapakmu,hanya kepada –Kulah kembalimu” [Qs. Luqman : 14]
Kemudian luqman setelah menyebutkan
wasiatnya kepada anaknya agar beribadah kepada Allah satu – satunya,
menggandengkan dengan wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua
karena besarnya hak keduanya.
3. Taatilah keduanya dalam perkara yang ma’ruf.
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم
بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian hanya kepada Kulah kembalimu, maka Kuberitaukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan [Qs Luqman : 15]
Ibnu Katsir berkata;
“maksudnya apabila kedua orang tua sangat bersemangat agar kamu mengikuti mereka berdua dalam agama mereka, maka janganlah terima hal itu. Dan hal itu tidak menghalangi untuk kamu mempergauli mereka berdua di dunia dengan baik, yaitu berbuat ikhsan kepada mereka, dan ikutlah jalan orang  -orang mukmin”
4. Setiap amalan pasti dibalas.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“(luqman berkata) : “hai anakku, sesunguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” [
Qs. Luqman : 16]
5. Tegakan Sholat
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ
“hai anakku, dirikanlah shalat”
Melaksanakan dengan rukun-rukun dan kewajiban – kewajibannya dengan khusyu
6. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ
“dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar”. (di kutip dari buku Kiat Sukses Mendidik Anak, Pustaka Al Haura)


Tinggalkan Komentar

Perang Badr Kubra 3 Kekalahan Pasukan Musyrikin

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Oleh : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar

Sebelumnya dikisahkan, di awal
pertempuran, kaum muslimin sempat terdesak oleh pasukan musyrikin.
Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah untuk meminta pertolongan-Nya.
Turunlah pasukan dari langit, yang dengan itu pasukan musyrikin
porak-poranda. Termasuk iblis yang bergabung dengan pasukan musyrikin
memilih kabur dari medan pertempuran karena takut binasa. Berikut kisah
lengkapnya.

Jumlah yang tidak seimbang itu ternyata
tidak menyurutkan semangat para sahabat untuk terus maju menyerang
musuh mereka. Akhirnya, satu demi satu tokoh-tokoh utama kaum musyrikin
berjatuhan. Kekalahan mereka semakin membayang.
Bahkan iblis yang menyertai barisan
kafir Quraisy dengan menyamar sebagai Suraqah bin Malik, bangsawan bani
Kinanah, lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran seketika
begitu kedua pasukan saling bertemu. Demikian diterangkan sebagian
mufassir berkaitan dengan firman Allah Ta’ala yang menceritakan hal ini:
وَإِذْ
زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لا غَالِبَ لَكُمُ
الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَرَاءَتِ
الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ
إِنِّي أَرَى مَا لا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ وَاللهُ شَدِيدُ
الْعِقَابِ
“Dan ketika syaitan menjadikan mereka
memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: ‘Tidak ada seorang
manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan
sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.’ Maka tatkala kedua pasukan
itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke
belakang seraya berkata: ‘Sesungguhnya saya berlepas diri daripada
kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak
dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat
keras siksa-Nya.” (Al-Anfaal: 48)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu
Ta’ala menceritakan, diriwayatkan bahwa syaitan yang menyaru sebagai
Suraqah bin Malik bin Ju’syum, dari Bani Bakr bin Kinanah yang ketika
itu ditakuti Quraisy kalau-kalau menyerang dari belakang. Setelah
menyaru di hadapan mereka, Allah Ta’ala menerangkan tentang kejadian
tersebut. Adh-Dhahhak berkata: “Iblis datang kepada mereka (pasukan
musyrikin) pada peristiwa Badr membawa bendera dan sepasukan
tentaranya. Dia memberikan keyakinan kepada mereka bahwa mereka tidak
akan kalah, karena mereka berperang demi agama nenek moyang mereka.”
Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala menceritakan (Az-Zaad, 3/181):
“…… Ketika musuh Allah itu melihat
tentara Allah turun dari langit, dia melarikan diri berbalik ke
belakang. Kaum musyrikin bertanya: “Hai Suraqah, mau ke mana? Bukankah
kau sudah mengatakan bahwa kau pelindung kami, tidak akan meninggalkan
kami?” Iblis menyahut: “Sungguh, aku melihat apa yang tidak kalian
lihat, saya takut kepada Allah, dan Allah sangat keras siksa-Nya.”
Dia benar ketika mengatakan “saya
melihat apa yang tidak kalian lihat”, tapi dusta ketika mengatakan saya
takut kepada Allah. Yang benar, dikatakan bahwa dia sebetulnya takut
kalau binasa di tangan tentara Allah tersebut. Inilah yang jelas. [1]
Tewasnya Abu Jahl dan Umayyah bin Khalaf
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari
Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam berkata:
مَنْ
يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوَجَدَهُ
قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ قَالَ أَأَنْتَ أَبُو
جَهْلٍ قَالَ فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ قَالَ وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ
قَتَلْتُمُوهُ أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ
“Siapa yang melihat apa yang diperbuat
Abu Jahl?” Maka berangkatlah Ibnu Mas’ud, dan ternyata dia temukan Abu
Jahl telah cedera akibat pukulan dua orang putera ‘Afra` sampai
sekarat. Ibnu Mas’ud berkata: “Apakah kau yng bernama Abu Jahl?”
Kemudian dia menarik janggutnya. Abu jahl berkata: “Adakah yang lebih
mulia dari orang yang dibunuh oleh bangsanya sendiri? Atau kalian telah
membunuhnya?”
Di bagian lain, beliau (Imam Bukhari) meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf:
إِنِّي
لَفِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ إِذِ الْتَفَتُّ فَإِذَا عَنْ يَمِينِي
وَعَنْ يَسَارِي فَتَيَانِ حَدِيثَا السِّنِّ فَكَأَنِّي لَمْ آمَنْ
بِمَكَانِهِمَا إِذْ قَالَ لِي أَحَدُهُمَا سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ يَا
عَمِّ أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ فَقُلْتُ يَا ابْنَ أَخِي وَمَا تَصْنَعُ بِهِ
قَالَ عَاهَدْتُ اللهَ إِنْ رَأَيْتُهُ أَنْ أَقْتُلَهُ أَوْ أَمُوتَ
دُونَهُ فَقَالَ لِيَ الآخَرُ سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ مِثْلَهُ قَالَ فَمَا
سَرَّنِي أَنِّي بَيْنَ رَجُلَيْنِ مَكَانَهُمَا فَأَشَرْتُ لَهُمَا
إِلَيْهِ فَشَدَّا عَلَيْهِ مِثْلَ الصَّقْرَيْنِ حَتَّى ضَرَبَاهُ
وَهُمَا ابْنَا عَفْرَاءَ
“Sesungguhnya saya berada dalam satu
barisan ketika perang Badr, ketika saya menoleh ternyata di kanan dan
kiri saya ada dua orang pemuda, saya merasa cemas melihat posisi
keduanya. Tiba-tiba salah satunya berkata perlahan-lahan: “Hai paman,
tunjukkanlah kepadaku yang mana Abu Jahl.” Saya bertanya: “Apa yang
akan kau lakukan terhadapnya?” Katanya: “Saya telah berjanji kepada
Allah, kalau saya melihatnya, saya akan membunuhnya atau saya gugur
karenanya.”
Yang lain berkata pula lebih perlahan
dari temannya seperti itu juga. ‘Abdurrahman berkata: “Tidak ada yang
menyenangkan aku berada di antara dua orang pemuda seperti ini, maka
saya tunjukkan kepada mereka.” Lalu keduanya segera menyerang Abu Jahl
bagaikan sepasang rajawali menyambar, hingga keduanya berhasil
melumpuhkannya. Keduanya adalah putera ‘Afra`.”
Adapun Umayyah, salah seorang gembong
Quraisy yang sangat hebat permusuhan dan penyiksaannya terhadap kaum
muslimin, tewas di tangan Bilal bin Rabah, bekas budaknya bersama
beberapa sahabat Anshar. Al-Imam Al-Bukhari menceritakan hal ini dalam Kitab Sahih-nya dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radliyallahu ‘anhu:
قَالَ
كَاتَبْتُ أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ كِتَابًا بِأَنْ يَحْفَظَنِي فِي
صَاغِيَتِي بِمَكَّةَ وَأَحْفَظَهُ فِي صَاغِيَتِهِ بِالْمَدِينَةِ
فَلَمَّا ذَكَرْتُ الرَّحْمَنَ قَالَ لا أَعْرِفُ الرَّحْمَنَ كَاتِبْنِي
بِاسْمِكَ الَّذِي كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَكَاتَبْتُهُ عَبْدَ
عَمْرٍو فَلَمَّا كَانَ فِي يَوْمِ بَدْرٍ خَرَجْتُ إِلَى جَبَلٍ
لأُحْرِزَهُ حِينَ نَامَ النَّاسُ فَأَبْصَرَهُ بِلالٌ فَخَرَجَ حَتَّى
وَقَفَ عَلَى مَجْلِسٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ لا
نَجَوْتُ إِنْ نَجَا أُمَيَّةُ فَخَرَجَ مَعَهُ فَرِيقٌ مِنَ الأَنْصَارِ
فِي آثَارِنَا فَلَمَّا خَشِيتُ أَنْ يَلْحَقُونَا خَلَّفْتُ لَهُمُ
ابْنَهُ لأَشْغِلَهُمْ فَقَتَلُوهُ ثُمَّ أَبَوْا حَتَّى يَتْبَعُونَا
وَكَانَ رَجُلا ثَقِيلا فَلَمَّا أَدْرَكُونَا قُلْتُ لَهُ ابْرُكْ
فَبَرَكَ فَأَلْقَيْتُ عَلَيْهِ نَفْسِي لأَمْنَعَهُ فَتَخَلَّلُوهُ
بِالسُّيُوفِ مِنْ تَحْتِي حَتَّى قَتَلُوهُ وَأَصَابَ أَحَدُهُمْ رِجْلِي
بِسَيْفِهِ وَكَانَ عَبْدُالرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ يُرِينَا ذَلِكَ
الأَثَرَ فِي ظَهْرِ قَدَمِهِ
“Saya pernah membuat kesepakatan dengan Umayyah bin Khalaf agar dia menjaga shaghiati di Makkah dan saya menjaga shaghiatihi[2]di
Madinah. Ketika aku menyebut Ar-Rahman, dia berkata: ‘Buatlah
perjanjian dengan namamu di waktu jahiliah (sebelum Islam).’ Maka
sayapun menuliskan nama ‘Abd ‘Amr.
Pada waktu peristiwa Badr saya naik ke
sebuah bukit untuk menjaganya ketika orang-orang sedang tidur. Ternyata
Bilal melihatnya, dan diapun keluar sampai berhenti di sebuah majelis
orang-orang Anshar, seraya berkata: ‘(Itu) Umayyah bin Khalaf. Saya
tidak selamat kalau dia selamat.’
Maka keluarlah bersamanya sekelompok
sahabat Anshar mengejar kami. Dan ketika saya merasa takut mereka
menyusul kami, saya tinggalkan anak Umayyah agar mereka sibuk
dengannya, tapi mereka berhasil membunuhnya. Dan mereka tidak berhenti
mengejar. Hingga akhirnya berhasil menyusul kami. Sementara Umayyah
laki-laki yang gemuk dan lamban maka saya berkata kepadanya:
‘Tiaraplah.’ Kemudian saya jatuhkan tubuh saya di atas tubuhnya untuk
mencegah mereka menyerang Umayyah. Tapi mereka tetap mencari celah di
bawah tubuhku sehingga berhasil menusukkan pedangnya dan membunuh
Umayyah. Bahkan salah seorang ternyata melukai kakiku.”
Kata (rawi): Dan ‘Abdurrahman memperlihatkan bekasnya kepada kami.”
Lebih lanjut Ibnul Qayyim mengisahkan,
pada waktu itu terjadi berbagai keajaiban sebagai tanda nubuwwah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Pedang ‘Ukasyah
bin Mihshan putus, lalu diganti Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi
wa sallam dengan sebatang kayu: “Ambillah ini!” Setelah berada dalam
genggamannya, dia menggerakkannya dan berubah menjadi sebilah pedang
putih yang sangat tajam dan terus menyertainya dalam setiap peperangan
sampai dia syahid pada waktu menumpas orang-orang murtad pada masa
pemerintahan Abu Bakr Ash-Shiddiq. Kisah ini dinukil dari sirah Ibnu
Ishaq tanpa sanad, demikian diterangkan oleh muhaqqiq Kitab Zadul Ma’ad.
Setelah pertempuran berhenti,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memerintahkan
agar melemparkan sekitar duapuluh empat bangkai pentolan kaum musyrikin
ke dalam beberapa sumur Badr. Beliau tinggal di sana selama tiga hari.
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan hal ini dalam Shahih-nya, dari Anas dari Abu Thalhah:
فَجَعَلَ
يُنَادِيهِمْ بِأَسْمَائِهِمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِهِمْ يَا فُلانُ بْنَ
فُلانٍ وَيَا فُلانُ بْنَ فُلانٍ أَيَسُرُّكُمْ أَنَّكُمْ أَطَعْتُمُ
اللهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّا قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا
فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا قَالَ فَقَالَ عُمَرُ يَا
رَسُولَ اللهِ مَا تُكَلِّمُ مِنْ أَجْسَادٍ لا أَرْوَاحَ لَهَا فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ
بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ قَالَ قَتَادَةُ
أَحْيَاهُمُ اللهُ حَتَّى أَسْمَعَهُمْ قَوْلَهُ تَوْبِيخًا وَتَصْغِيرًا
وَنَقِيمَةً وَحَسْرَةً وَنَدَمًا
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam memanggil nama mereka dan nama bapak mereka, Hai
Fulan bin Fulan, Hai Fulan bin Fulan, bukankah menyenangkan kalian
(kalau) kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah
melihat bahwa apa yang dijanjikan kepada kami oleh Rabb kami dalah
benar. Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Rabb
kalian juga benar?”
‘Umar berkata: “Ya Rasulullah, anda tidaklah mengajak bicara kecuali bangkai yang telah tidak bernyawa lagi.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam menjawab: “Demi Zat Yang jiwaku di Tangan-Nya. Kamu
tidak lebih mendengar apa yang saya katakan dibandingkan mereka.”
Kata Qatadah (Rawi): “Allah Ta’ala
menghidupkan mereka hingga mendengar apa yang diucapkan beliau sebagai
penghinaan, pelecehan dan hukuman terhadap mereka, serta penyesalan.”
Keutamaan Syuhada` Badr
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam dan para sahabat kembali dalam kemenangan membawa
tujuh puluh tawanan dengan sejumlah harta rampasan perang. Setibanya di
Shafra`, harta dibagi-bagikan. An-Nadher bin Al Harits bin Kaladah
dihukum penggal, setelah tiba di Al-‘Irqi Azh-Zhabyah leher ‘Uqbah bin
Abi Mu’aith pun ditebas.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi
wa sallam masuk ke Madinah dengan kekuatan dan kemenangan yang
menimbulkan rasa takut musuh-musuh beliau yang ada di Madinah dan
sekitarnya. Akhirnya masuk Islam sejumlah suku di sekitar Madinah dan
pada masa itu pula ‘Abdullah bin Ubai bin Salul gembong munafik Madinah
masuk Islam secara lahiriah.
Kaum muslimin yang ikut dalam perang
Badr ini sekitar 317 orang, terdiri dari muhajirin 86 orang, dari Aus
61 orang dan Khazraj 170. Adapun yang gugur sebagai syuhada` sekitar 14
orang, enam dari muhajirin dan 6 dari Khazraj dan 2 dari Aus.
Berikut ini, kami nukilkan dua hadits yang menerangkan sebagian keutamaan sahabat yang ikut perang Badr.
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu:
أُصِيبَ
حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ غُلامٌ فَجَاءَتْ أُمُّهُ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ
قَدْ عَرَفْتَ مَنْزِلَةَ حَارِثَةَ مِنِّي فَإِنْ يَكُنْ فِي الْجَنَّةِ
أَصْبِرْ وَأَحْتَسِبْ وَإِنْ تَكُ الأُخْرَى تَرَى مَا أَصْنَعُ فَقَالَ
وَيْحَكِ أَوَهَبِلْتِ أَوَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ إِنَّهَا جِنَانٌ
كَثِيرَةٌ وَإِنَّهُ فِي جَنَّةِ الْفِرْدَوْسِ
Haritsah gugur pada peristiwa Badr,
sedangkan dia adalah seorang pemuda. Datanglah ibunya menemui Nabi
shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan berkata: “Ya
Rasulullah, anda tahu bagaimana kedudukan Haritsah di sisiku. Kalau dia
di jannah, aku akan bersabar dan mengharap pahala. Kalau dia dapatkan
yang lain, anda akan lihat apa yang kulakukan.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam berkata: “Celaka kamu, apakah kamu meratapi kematian
anakmu, atau kamu anggap jannah itu satu. Dia beberapa tingkat dan
puteramu di Jannah Firdaus.”
Beliau meriwayatkan pula dari ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu:
عَنْ
عَلِيٍّ رَضِي الله عَنْه قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ وَالزُّبَيْرَ ابْنَ
الْعَوَّامِ وَكُلُّنَا فَارِسٌ قَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا
رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا امْرَأَةً مِنَ الْمُشْرِكِينَ مَعَهَا
كِتَابٌ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ
فَأَدْرَكْنَاهَا تَسِيرُ عَلَى بَعِيرٍ لَهَا حَيْثُ قَالَ رَسُولُ الله
صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا الْكِتَابَ فَقَالَتْ مَا
مَعَنَا كِتَابٌ فَأَنَخْنَاهَا فَالْتَمَسْنَا فَلَمْ نَرَ كِتَابًا
فَقُلْنَا مَا كَذَبَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُجَرِّدَنَّكِ فَلَمَّا رَأَتِ الْجِدَّ
أَهْوَتْ إِلَى حُجْزَتِهَا وَهِيَ مُحْتَجِزَةٌ بِكِسَاءٍ فَأَخْرَجَتْهُ
فَانْطَلَقْنَا بِهَا إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ الله قَدْ خَانَ الله وَرَسُولَهُ
وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ قَالَ
حَاطِبٌ وَالله مَا بِي أَنْ لا أَكُونَ مُؤْمِنًا بِالله وَرَسُولِهِ
صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ لِي عِنْدَ
الْقَوْمِ يَدٌ يَدْفَعُ الله بِهَا عَنْ أَهْلِي وَمَالِي وَلَيْسَ
أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِكَ إِلا لَهُ هُنَاكَ مِنْ عَشِيرَتِهِ مَنْ
يَدْفَعُ الله بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ وَلا تَقُولُوا لَهُ إِلا خَيْرًا فَقَالَ
عُمَرُ إِنَّهُ قَدْ خَانَ الله وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي
فَلأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ
لَعَلَّ الله اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا
شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمُ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ
فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ الله وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam mengutus saya, Abu Martsad Al-Ghanawi dan Zubair bin
‘Awwam, dan kami semua berkuda berangkat sampai di Raudhah Khakh. Di
sana ada seorang wanita musyrik membawa sepucuk surat dari Hathib bin
Abi Balta’ah untuk kaum musyrikin. Maka kamipun menemukan wanita itu
mengendarai untanya seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Lalu kami berkata: “Keluarkan surat
itu.”
Wanita itu menjawab, “Tidak ada surat
pada kami.” Lalu kami menyingkirkannya dan mulai mencari namun tidak
menemukan apa-apa. Kami berkata: “Raslullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam tidak berdusta. Kau keluarkan surat itu atau kami
telanjangi kau.”
Melihat keseriusan kami, wanita itu
mengeluarkan sesuatu dari ikat pinggangnya, tersembunyi dalam sebuah
kantung kemudian dia menyerahkan surat itu kepada kami. Lalu kamipun
berangkat membawa surat itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam. Tiba-tiba ‘Umar berkata: “Ya Rasulullah dia
telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, biarkan aku tebas lehernya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata: “Ya Hathib, apa yang mendorongmu berbuat seperti ini?”
“Ya Rasulullah, tidak ada apa-apa. Aku
tetaplah seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak
merubah agamaku apalagi menukarnya (dengan apapun). Saya hanya ingin
sedikit punya andil terhadap orang Quraisy, yang dengan itu Allah
menyelamatkan keluarga dan hartaku. Karena tidak seorangpun sahabatmu
melainkan mereka masih punya kerabat yang Allah lindungi dengan kerabat
itu keluarga dan hartanya.”
“Dia benar. Jangan kalian berkata
kepadanya apapun kecuali yang baik.” Kata Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. ‘Umar bin Al Khaththab berkata: “Dia
sudah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum mu`minin. Jadi
biarkan saya tebas lehernya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam berkata: “Ya ‘Umar, apakah kau tidak tahu,
mudah-mudahan Allah telah mengetahui perihal mereka yang ikut perang
Badr dan berkata: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki. Sungguh Aku
telah memastikan jannah bagi kalian.’ Mendengar hal ini mengalirlah air
mata ‘Umar dan dia berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Inilah sebagian hadits yang menerangkan
keutamaan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa
sallam. Sehingga tidak ada yang pantas bagi mereka yang menjatuhkan
kehormatan para sahabat kecuali permusuhan dan kebencian serta kutukan
sampai mereka bertaubat kepada Allah dan mendoakan agar mereka
dirahmati Allah Ta’ala.
Wallahu a’lam.

[1] Ibnu Katsir, 2/386
[2] Yang khusus dari harta benda dana keluarga. Wallahu A’lam.


Tinggalkan Komentar

Pelajaran dari Surat Al Qaari’ah ( Hari Kiamat)

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْقَارِعَةُ
مَا الْقَارِعَةُ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ
فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ
نَارٌ حَامِيَةٌ
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Hari Kiamat,
2. apakah hari Kiamat itu?
3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
5. dan gunung-gunung adalah seperti kapas yang terbusar.
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya,
9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
Surat ini dinamakan dengan Al
Qari’ah karena dimulai dengan kata Al Qari’ah untuk membuat mengerikan
dan memberi rasa takut sebagaimana surat Al Haqqah dan Al Ghasyiyah di
awali dengan kedua kata itu. Karena surat ini mengetuk hati dengan
keras hingga mengagetkannya dengan keadaan mengerikan.
Tatkala surat yang lalu ditutup dengan gambaran hari kiamat pada firman Allah Ta’ala :
أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ , وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ , إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ
“maka apakah dia tidak mengetahui jika
dibangkitkan apa yang di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di
dalam dada. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui
tentang diri mereka”
Surat ini termasuk Makkiyyah. Temanya
adalah pemberi tahuan tentang sebagian kejadian hari kiamat yang
mengerikan yang mengerikan dan membua takut pada kejadian itu.
Penjelasan kosa kata
الْقَارِعَةُ
“Al Qari’ah”
Salah satu nama hari kiamat, karena dia
mengetuk dengan keras hati dan pendengaran dengan kejadiannya yang
mengerikan dan mengagetkan. Dari kata Qara’ yang berarti memukul dengan
keras.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ
“Taukah kamu apakah Al Qari’ah itu”
Pertanyaan ini untuk membuat takut,
karena ia adalah sesuatu yang tidak diketahui keadaanya. Allah Ta’ala
mengulangi pertanyaan seperti itu sebagai tambahan tentang teramat
sangatnya rasa takut saat itu.
الْمَبْثُوثِ كَالْفَرَاشِ
“Anai – anai yang bertebaran”
Ia adalah binatang terbang yang bodoh yang berjatuhan ke dalam api
الْمَبْثُوثِ
“Bertebaran”
Yang tersebar terpisah – terpisah dalam
jumlah yang banyak, ke sana-sini, dalam keadaan hina, saling menabrak,
meraka saling berlari dan saling menginjak karena bingung.
وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ
“Dan gunung – gunung seperti kapas yang terbusar”
Dalam keadaannya yang sangat mudah diterbangakan dan berhamburan menjadi rata dengan tanah.
ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
“Berat timbangannya”
Lebih berat kebaikannya dibandingkan dengan keburukannya.
فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ
“Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan”
Yang  di sukai olehnya penghuninya yaitu surga
خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
“Ringan timbangannya”
Dimana keburukannya lebih berat dari kebaikannya.
فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
“Maka ibunya adalah Hawiyah”
Maka rumah dan tempat tinggal yang dia tempati adalah neraka jahannam.
وَمَا أَدْرَاكَ
“Dan tahukah kamu”
Apa yang engkau ketahui..? pertanyaan ini untuk membuat takut.
مَا هِيَهْ
“Apakah Hawiyah itu”
Salah satu nama neraka jahannam
نَارٌ حَامِيَةٌ
“Dia adalah api yang sangat panas”
Telah tersebut di dalam sunnah, hadist
– hadist tentang sifat neraka. Diantaranya hadist oleh Bukhary, Muslim,
Malik, dan sebagainya :
Dari Abu Hurairah bahwa nabi bersabda :
“Sesungguhnya api manusia yang kalian
nyalakan hanya satu dari tujuh puluh bagian api neraka. Para sahabat
berkata : ‘wahai Rasulullah ! andaikan itupun (api dunia yang
sepertujuh puluh), maka juga sudah cukup’.  Maka Rasul menegaskan : ‘
dia (api neraka melebihnya (api dunia) sebanyak enampuluh Sembilan kali
lipat’ “
Imam At Turmudzy dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadist Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul bersabda :
“ Neraka dinyalakan seribu tahun hingga
merah, lalu dinyalakan seribu tahun hingga putih, lalu dinyalakan
seribu tahun hingga hitam, dia (neraka) itu hitam gelap”.
Makna surat.
Surat ini mengandung akidah (
keyakinan) tentang kebangkitan dan balasan yang di dustakan dan sangat
di ingkari oleh kaum musyrikin. Maka Allah mengabarkan kepada kita
tentang hari kiamat yang mengagetkan manusia dengan kejadiannya yang
mengerikan dan dahsyat yang berlangsung ketika itu. Dimana manusia
bagai anai – anai yang bertebaran dalam satu gabungan yang saling
menginjak dan tidak mengetahui jalan.
Dan gunung – gunung walau begitu kokoh,
tinggi dan besarnya namun ia berbagaikan kapas yang dibusar dengan
pembusar terbang kesana kesini secara berhamburan. Setelah semua
selesai, mereka dibawa mereka hingga berada di hadapan Rabbnya untuk
perhitungan dan pembalasan amal mereka.
Maka barang siapa yang lebih berat
kebaikannya atas keburukanya, maka dia selamat dari api neraka dan
berada dalam kehidupan yang memuaskan. Namun begitu juga sebaliknya,
akan lemparkan ke neraka Hawiyah dengan posisi kepala berada di bawah.
Hawiyah adalah api yang sangat panas yang tidak lebih panas darinya.
Dia (Hawiyah) adalah tempat kebinasaan dan kerugian. Semoga Allah
Ta’ala memelihara kita.
Faedah
1. Penetapan akidah tentang kebangkitan dan balasan dengan menyebutkan sebagian gambarannya.
2. Peringatan dari kejadian mengerikan pada hari kiamat dan adzab Allah yang ada padannya.
3. Penetapan akidah tentang penimbangan amal shaleh dan keburukan serta balasannya.
4. Penetapan bahwa manusia pada hari
kiamat terbagi menjadi dua kelompok di neraka sesuai dengan perbuatan
mereka. satu kelompok di Surga dan satu kelompok di neraka
(dikutip dari bukuAd Durusil Muhimmah Li Ammati Ummah, Cahaya Tauhide press)

Sumber : http://www.salafy.or.id/aqidah/pelajaran-dari-surat-al-qaariah-hari-kiamat/


Tinggalkan Komentar

Keutamaan surat Al Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

1. dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

2. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

4. yang menguasai hari Pembalasan.

5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.

6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Tafsir Al – Fatihah

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Pujian bagi Allah subhanahuwata’ala dengan sifat-sifatnya yang sempurna disertai cinta, pengagungan, dan pemulaian kepada-Nya

رَبِّ

Adalah yang di sembah, Sang Raja, dan Pengatur. Dia memelihara seluruh alam dengan berbagai macam pemeliharaan

الْعَالَمِينَ

                                                                                                               Semua yang ada selain allah

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dua nama allah Subhanahuwata’ala yang menunjukan bahwa dia pemilik rahmat yang luas dan agung yang meliputi segala sesuatu dan mencangkup seluruh makhluk. Dialah Rahman dan Rahimnya dunia, Rahman dengan rahmat yang bersifat umum bagi seluruh makhlukNya dan Rahim khusus bagi orang mungkin  sebagaimana firmannya

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ

Katakanlah (Muhammad) : Serulah Allah atau serulah Ar Rahman!!! Mana saja yang kalian seru, maka baginyalah al asma’ al – husna ( nama-nama yang baik) itu (QS. Al – Isra : 110

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang memiliki otoritas tunggal di hari perhitungan dan pembalasan, dimana semua makhluk diberi balasan atas amal perbuatan mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ

apakah kamau tahu  tentang yaumuddin?! Lalu (sekali lagi) apakah kamu tahu tentang yaumiddin?! Hari yang tidaklah satu jiwa mampu berbuat sesuatu terhadap jiwa yang lain dan semua urusan pada hari itu bagi allah ( QS. Al – Infithar :17-19

Al malik adalah Dia yang bersifat dengan sifat – sifat agung dan sempurna yang pantas baginya memegang kerajaan. Dia menyandarkan kerajaan –Nya kepada hari perhitungan, karena allah memperhitungkan makhluknya pada hari itu akan amal perbuatan mereka dan membalasnya dengan adil

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Kami khuskan engkau sendiri wahai rabb kami dalam penyembahan dan memohon pertolongan.  Kami tidak beribadah kepada selain-Mu, kami tidak memohon pertolongan selain-Mu. Ini adalah janji antara seorang hamba dan dengan tuhannya untuk tidak beribadah dan tidak memohon pertolongan kecuali kepada-Nya

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami dan berilah kami taufiq kepada jalan yang lurus yang tidak ada kebengkokan padanya, yaitu ilmu tentang kebenaran dan pengalaman yang dapat menyampaikan kepada Allah Subhanahuwata’ala surga dan pemuliaan-Nya

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Jalan orang-orang yang telah Engkau bernikmat bukan kepada mereka dengan hidayah dan taufiq untuk beriman dan istiqomah (komintmen) padanya. Mereka itu lah para nabi, shiddiqin, (orang-orang yang membenarkan), para syahid, orang-orang yang shale

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya seperti yahudi dan semisalnya

وَلَا الضَّالِّينَ

Yaitu orang – orang yang tersesat dari kebenaran seperti nashara dan selainya, yakni orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Mereka tersungkur  dalam kesesatan dan tidak terpetunjuk kepada kebenaran

Keutaman surat Al – Fatihah

Sabda nabi pada Abu Sad Bin Al-Mu’ala

Sungguh saya akan mengajarkan padamu surat yang paling agung dalam al-quran sebelum kamu keluar dari masjid ini, beliau bersabda kepada-Nya “ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (Maksudnya: Surat Al Fatihah

Kisah seorang yang disengat (kalajengking, dimana orang itu yang setelah dilakukan dengan ruqyah padanya, maka dia sembuh dengan izin allah,pent) , membari faedah pengetian bahwa surat Al Fatihah adalah obat yang meyembuhkan dan ampuh, serta ia adalah ruqyah Imam Al Bukhary telah meriwayatkannya

Dalam hadist meriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi bersabda

“barang siapa yang shalat dengan suatu shalat, dimana dia tidak membaca padanya padanya Ummul Quran, maka shalatnya catat (nabi mengulangi kata ini tiga kali) tidak sempurna ( H R. Muslim)

Faedah yang dapat diambil dari Al Fatihah

 Membaca Al Fatihah adalah salah satu rukun shalat sesuai dengan sabda nabi

                “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul-Kitab”

        Adapun bagi makmum, maka yang shahih adalah wajib, baik dalam shalat shirr maupun pada shalat jahr

[3] Surat ini mengandung perkara yang telah di sepekati oleh salaf dan imam mereka yaitu kaedah-kaedah yang mewajibkan iman kepada nama-nama allah dan sifat – sifat-Nya, dimana mereka menetapkan apa yang di tetapkan  allah Ta’ala bagi diri-Nya (dan yang ditetapkan oleh Nabi Allah Ta’ala) serta menolak (nama-nama dan sifat-sifat yang Dia nafikan bagi diri-Nya) dan yang di nafikan Rosul-Nya dari-Nya tanpa merubah, menyamakan dengan makhluk, memberi permisalan atau membicarakan hakekat keadaan-Nya.

 (Dikutip dari buku Ad Durusul Muhimmah Li Ammatil Ummah, Penerbit Cahaya Tauhid Press)


Tinggalkan Komentar

Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah

Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah ‘Azza wa Jallaberfirman,

وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” [Al-Fajr: 1-2]

Setelah menyebutkan sejumlah ucapan ulama tafsir tentang ayat di atas, seorang mufassir ternama, lbnu Jarirrahimahullâh, dalam Tafsir-nya, menyimpulkan bahwa“malam yang sepuluh” tersebut adalah malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan para ulama tafsir tentang hal tersebut.[1]

Ibnu Katsir rahimahullâh juga menguatkan hal tersebut sembari berkata, “Yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh Dzulhijjah sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbâs, Ibnu Az-­Zubair, Mujahid, dan ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan) selain mereka ….”

Allah Subhânahû wa Ta’âlâ berfirman pula,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ….” [Al-Hajj: 27-28]

Menurut lbnu Katsir rahimahullâh, yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” dalam ayat di atas adalah sepuluh hari Dzulhijjah. Beliau menukil hal tersebut dari Ibnu ‘Abbâs, Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhumâ, Mujâhid, Qatâdah, ‘Athâ`, Sa’îd bin Jubair, Al-Hasan, Adh-Dhahhâk, ‘Athâ` Al-Khurasâny, dan lbrahim An-Nakha’iy, serta merupakan pendapat Madzhab Asy-Syâfi’iy dan yang masyhur dari Ahmad –semoga Allah merahmati mereka seluruhnya-.

Berdasarkan keterangan-keterangan dari dua ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa sepuluh hari Dzulhijjah merupakan hari-hari yang memiliki fadhilah yang sangat besar bagi kaum muslimin.

Selain itu, bila kita memperhatikan berbagai ibadah yang disyariatkan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini, akan tampak dengan jelas berbagai keistimewaan sepuluh hari tersebut. Al-­Hafizh Ibnu Hajar rahimahullâh berkata, “Yang tampak adalah bahwa keistimewaan sepuluh hari Dzulhijjah adalah karena (hari-hari itu merupakan) tempat berkumpulnya pokok-pokok ibadah, yaitu shalat, puasa, shadaqah dan haji, yang hal tersebut tidaklah terjadi pada (hari-hari) lain.”[2]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Hal tersebut dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tiada suatu hari pun yang amal shalih pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini. (Para shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak pula (dilebihi oleh) jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘(Ya), tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun dari hal tersebut.’.” [3]

Hadits di atas merupakan hadits pokok yang menjelaskan keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijjah yang mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:

Pertama, menunjukkan keutamaan beramal kebaikan pada sepuluh hari awal Dzulhijjah sehingga keutamaan beramal pada hari-hari tersebut tidak terkalahkan oleh amalan apapun pada selain hari-hari itu, termasuk amalan jihad di jalan Allah yang tidak mengakibatkan seseorang mati syahid karenanya. Oleh karena itulah, para ulama salaf sangat mengagungkan hari-hari Dzulhijjah ini.

Abu Utsman An-Nahdy[4] rahimahullâh berkata, “Sesungguhnya mereka (shahabat dan tabi’in) mengagungkan tiga sepuluh: sepuluh (hari) terakhir dari Ramadhan, sepuluh (hari) awal dari Dzulhijjah, dan sepuluh (hari) awal dari Muharram.”[5] Oleh karena itu, ini adalah suatu nikmat dan anugerah Allah kepada kaum muslimin agar mereka memanfaatkan sepuluh hari Dzulhijjah tersebut dengan sebaik mungkin.

Kedua, keterangan bahwa amalan shalih pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih utama daripada amalan shalih yang bukan pada hari-hari tersebut menunjukkan bahwa segala amalan shalih pada sepuluh hari tersebut pahalanya dilipatgandakan.

Ketiga, frasa “amal shalih” yang dimaksud adalah sebuah konteks umum yang meliputi segala jenis amalan shalih, baik amalan shalih yang syariat dan tuntunannya dalam bulan Dzulhijjah telah tetap, seperti pelaksanaan haji, puasa ‘Arafah, hari An-Nahr (‘Idul Adha), berqurban, berpuasa, dan memperbanyak takbir, maupun amalan shalih yang merupakan hal yang disyariatkan atas setiap muslim pada segala keadaan, seperti ibadah-ibadah wajib, ibadah sunnah, shalat malam, membaca Al-Qur`an, menyambung silaturahmi, dan berbakti kepada orang tua.

Keempat, dalam hal memperbandingkan antara sepuluh hari awal Dzulhijjah dan sepuluh malam akhir Ramadhan, terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang yang paling utama antara keduanya.

Ibnul Qayyim menukil dari gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh, bahwa Syaikhul Islam menyatakan, “Fashlul khithâb ‘pendapat yang menuntaskan perselisihan’ adalah bahwa malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam-malam sepuluh (hari) awal Dzulhijjah karena Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallambersungguh-sungguh dalam hal menunaikan ibadah pada malam-malam tersebut dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan terhadap malam-malam lain, sedangkan hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah lebih utama daripada hari-hari sepuluh terakhir Ramadhan berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs ini dan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam‘Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr’ [6] serta keutamaan yang datang dalam hari ‘Arafah[7].”[8]

Demikian pula keterangan Al-Mubarakfury rahimahullâh [9].

Dari Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim rahimahullâh juga menukil jawaban yang semakna, dengan redaksi yang lebih ringkas, sembari menyifatkan jawaban itu sebagai jawaban yang sangat memuaskan lagi mencukupi. Beliau juga menyatakan bahwa siapa saja yang menjawab bukan dengan rincian beliau, ia tidak mungkin membawakan argumen yang benar.[10]

Namun, Ibnu Rajab rahimahullâh memandang bahwa pendapat di atas adalah pendapat yang jauh dari kebenaran. Bagi beliau, hadits-hadits tentang lebih utamanya sepuluh hari awal Dzulhijjah berlaku umum untuk malam dan siang hari[11].

Wallâhu A’lam.


[1] Jâmi’ul Bayân 12/559.

[2] Fathul Bâry 2/460.

[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry no. 969, Abu Dâwud no. 2438, At-Tirmidzy no. 756 (lafazh hadits adalah milik beliau), dan Ibnu Mâjah no. 1727.

[4] Beliau adalah Abdurrahman bin Mull, salah seorang ulama tabi’in yang wafat pada tahun 95 H.

[5] Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dalam Ash-Shalâh sebagaimana dalam Ad-Durr Al-Mandzûr 8/502 karya As-Suyuthy. Baca pulalah Lathâ’if Al-Ma’ârif hal. 31 karya Ibnu Rajab (cet. Maktabah Ar-Riyadh Al-Haditsiyah).

[6] Takhrîj-nya akan disebutkan.

[7] hadits tentang keutamaan hari ‘Arafah akan disebutkan.

[8] Demikian nash ucapan Ibnu Taimiyah yang dinukil oleh muridnya, Ibnul Qayyim, dalamTahdzîb As-Sunan 6/315.

[9] Bacalah kitab beliau, Tuhfatul Ahwâdzy, pada penjelasan hadits no. 506 dari Sunan At-Tirmidzy (Abwâb Ash-Shiyâm Bab fi Amal fi Ayyâm At-Tasyrîq).

[10] Bacalah Badâ`i’ul Fawâ`id 3/683.

[11] Bacalah keterangan beliau dalam Lathâ`if Al-Ma’ârif hal. 282.

Sumber : http://dzulqarnain.net/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.